Rasa aman merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Dalam hal ini Abraham Maslow bahkan memasukkannya dalam piramida hierarchy of needs yang terdiri dari 5 tingkat itu. Rasa aman dimasukkannya sebagai nomor dua dari bawah atau dianggap cukup dasar.
Sementara zona nyaman (comfort area/zone) merupakan suatu batasan mental yang membuat kita tidak mau melangkah keluar darinya, termasuk melakukan tindakan apa pun yang kita anggap akan membawa kita keluar darinya. Dalam hidup biasanya kita pada akhirnya mencapai satu area yang kita anggap memadai untuk kita diami. Kalau istilah psikologinya menjadi “camper”. Orang dengan kepribadian macam ini mirip dengan phlegmatis, mereka seperti tidak bergerak atau berbuat sesuatu yang memadai, hanya karena filosofi hidup “begini saja saya sudah cukup kok.”
Keduanya berbeda sama sekali. Rasa aman tentu dicari dan dipertahankan manusia. Tidak mungkin misalnya kita membiarkan dompet atau HP kita bergeletakan di atas meja restoran sementara kita sebagai pemiliknya malah pergi ke toilet. Atau seorang wanita sengaja pergi ke tempat yang rawan kejahatan tengah malam. Dalam mencari rasa aman ini kemudian manusia berusaha memproteksi dirinya dan kemudian menurut teori kontrak sosialnya Jean Jacques Rousseau membentuk lembaga untuk mengawasi keamanan bernama polisi. Setelah hukum terbentuk, kemudian juga dibuat perangkat hukum lainnya.
Sementara zona nyaman justru membatasi manusia untuk maju. Dalam ilmu manajemen yang diadopsi dari filosofi hidup orang Jepang, ada istilah singkat tapi bermakna dalam: “Kaizen”. Bila disederhanakan artinya kira-kira adalah “implementasi terhadap prinsip peningkatan terus-menerus”. Orang yang menerapkan prinsip “Kaizen” akan berupaya belajar setiap saat tanpa mengenal waktu, dari mana saja, dan tentang apa saja. Dengan semangat seperti itulah blog LifeSchool ini kemudian dituliskan sejak dua tahun lalu.
Keluar dari zona nyaman akan membuat manusia menghadapi medan bahaya baru, yaitu dunia asing yang tak dikenal. Ini kemudian menjadi tantangan. Meski seolah menakutkan, namun sebenarnya jauh di bawah sadarnya manusia senantiasa mencari tantangan. Apa gunanya? Ya untuk ditaklukkan.
Akan tetapi keinginan menaklukkan tantangan memang tergantung dari kepribadian seseorang. Bila mengambil tipe kepribadian Hippocrates, maka secara berurutan yang suka menaklukkan tantangan adalah Koleris, Sanguin, Melankolis dan terakhir Phlegmatis. Dalam tipe DISC tentu saja sesuai urutan juga yaitu Dominan, Influence, Steadiness dan Compliance. MBTI terlalu rumit karena ada 16 tipe kepribadian, namun yang paling jelas adalah penggolongan menurut Enneagram dimana tipe Achiever menjadi lawan dari Peacemaker.
Dan saya berpendapat, kepribadian walau seolah taken for granted atau “sudah dari sononya” dan ada unsur genetis, namun bukan tidak mungkin bisa diubah. Kalau kita ingin maju, sebenarnya sederhana, ubah mindset dan lakukan tindakan sesuai mindset baru itu, yaitu keluar dari zona nyaman dan sambut tantangan. Tanpa kita sadari dalam beberapa waktu kepribadian kita akan berubah menjadi Gemba Kaizen atau perbaikan kualitas langsung di tempat kerja (Imai, 1999). Menurut hemat saya, sebenarnya dapat diperluas menjadi perbaikan diri di setiap ladang kehidupan. Ini sesuai dengan falsafah “Kaizen” yang berpandangan bahwa cara hidup kita, apakah kehidupan kerja, kehidupan sosial, kehidupan rumah tangga, hendaknya berfokus pada upaya perbaikan terus menerus, kecil bertahap, dan berguna (Muhidin, 2009). Singkatnya, perbaikan tanpa henti.
Rabu, 23 Februari 2011
Selasa, 22 Februari 2011
penyembuhan penyakit hati
Islam adalah agama rahmat bagi manusia, untuk kesejahteraan dan kebahagiaannya, baik di dunia maupun di akhirat. Untuk itu Islam mengajarkan hal-hal yang menjadikan manusia hidup sejahtera dan bahagia, di antara ajarannya itu ialah tentang kesehatan, baik kesehatan jasmaniah maupun rohaniah.
Kesehatan adalah sesuatu nilai yang paling berharga yang dimiliki oleh orang-orang sehat. Uang dan harta yang banyak, menjadi suatu yang tidak lagi bernilai bagi seorang yang sakit. Pepatah mengatakan, “kesehatan itu adalah mahkota di atas kepala orang-orang yang sehat, tetapi yang mengetahuinya adalah orang sakit.” Sesungguhnya ajaran tentang kesehatan dalam Islam lebih jauh jangkauan dan pembahasannya dari pembahasan ilmu kesehatan.
Islam menetapkan tujuan pokok kehadirannya untuk memelihara agama, jiwa, akal, jasmani, harta, dan keturunan. Setidaknya tiga dari yang disebut di atas berkaitan dengan kesehatan. Yaitu jiwa, akal dan jasmani. Tidak heran jika ditemukan bahwa Islam amat kaya dengan tuntunan kesehatan.
Ada dua istilah literatur keagamaan yang digunakan untuk menunjuk tentang pentingnya kesehatan dalam pandangan Islam, yaitu: (1) kesehatan, yang terambil dari kata sehat, dan (2) afiat.
Keduanya dalam bahasa Indonesia, sering menjadi kata majemuk sehat afiat. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata afiat dipersamakan dengan “sehat”. Afiat artinya “sehat” dan “kuat”. Sedangkan sehat (sendiri) antara lain diartikan sebagai keadaan baik segenap badan serta bagian-bagiannya (bebas dari sakit). Sehat adalah keadaan tubuh yang membuat gerak perbuatan menjadi sempurna.
Majelis Ulama Indonesia (MUI), misalnya, dalam Musyawarah Nasional Ulama tahun 1983 merumuskan kesehatan sebagai “ketahanan jasmaniah, rohaniah, dan sosial yang dimiliki manusia, sebagai karunia Allah yang wajib disyukuri dengan mengamalkan (tuntunan-Nya), dan memelihara serta mengembangkannya.”
Sebagai umat Islam, salah satu kewajibannya adalah menyeru manusia agar beriman kepada Allah. Tugas dan kewajiban yang berat ini tentunya harus benar-benar disiapkan sarana dan prasarana, fisik maupun mental. Olehnya itu diperlukan pandangan, bagaimana memandang unsur-unsur kekuatan manusia yaitu, hati (jiwa), akal dan jasmani agar dapat merupakan pondasi dalam membentuk manusia mukmin yang benar-benar dapat melakukan aktivitas dan kewajibannya.
Hati manusia perlu ditumbuhkan dan dibentuk sedemikian rupa sehingga utuh dan sehat. Unsur terpenting dalam membentuk pertumbuhan dan perkembangan kejiwaan manusia adalah iman yang direalisasikan dalam bentuk ajaran agama. Kepribadian (jiwa) yang di dalamnya terkandung unsur-unsur agama dan keimanan yang cukup teguh, akan mampu menghadapi permasalahan hidup dengan tenang. Maka Islam memandang perlu bahkan mengharuskan membina hati dalam ajaran agama.
Setiap orang ingin mencapai kebahagiaan, ketenangan dan kesuksesan. Tiada seorang pun yang ingin susah dan gagal, namun dalam kenyataannya tidaklah semua orang dapat mencapai kebahagiaan, banyak di antara mereka yang gagal, bahkan tidak jarang di antara mereka yang terjerumus ke dalam lembah kebinasaan, karena tidak mampu menghadapi tantangan dan tidak mendapatkan petunjuk dari Allah SWT.
Dewasa ini banyak manusia yang jauh dari agama Allah, maka sebagai dampaknya adalah kemaksiatan merajalela, kerusakan tersebar di mana-mana, dan dapat dikatakan hampir tidak ada orang yang dapat terhindar dari kemungkaran selain mereka yang dipelihara oleh Allah Swt. Jika suatu saat mereka melemah atau ingin memperoleh keuntungan dalam hal materi, maka akan ditempuhlah cara-cara yang buruk dan keji, seperti menggunjing, menghasut, mengadu domba, dan menyebarkan kerusakan. Penyakit-penyakit semacam ini telah menjadi ciri zaman kita sekarang.
Ada banyak penyakit fisik di dunia ini yang pada umumnya bisa disembuhkan berdasarkan ilmu kedokteran. Namun masih banyak juga yang belum bisa disebuhkan oleh dokter, yaitu penyakit hati (menyangkut kejiwaan). Dan inilah yang akan dibahas dalam skripsi ini.
Ada orang yang ditimpa suatu penyakit, berbagai macam cara telah ditempuh, tetapi penyakit tidak sembuh, malah makin parah.
Al-Qur’an sendiri banyak berbicara tentang penyakit hati. Dalam Al-Qur’an tidak kurang dari sebelas kali disebut istilah fi qulubihim maradh.
فى قلوبهم مرض فزادهم الله مرضا … (البقرة: ۱۰).
‘Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya.…
(QS. al-Baqarah (2) : 10).’
Kata qalb atau qulub dipahami dalam dua makna, yaitu akal dan hati. Sedangkan kara maradh biasanya diartikan sebagai penyakit. Secara rinci pakar bahasa Ibnu Faris mendefinisikan kata tersebut sebagai “segala sesuatu yang mengakibatkan manusia melampaui batas keseimbangan/kewajaran dan mengantar kepada terganggunya fisik, hati, bahkan kepada tidak sempurnanya amal seseorang.”.
Berkaitan dengan pembahasan di atas, Dr. Zakiah Darajat mengemukakan dalam buku bahwa:
‘Tidak seorang pun yang tidak ingin menikmati ketenangan dan kebahagiaan dalam hidupnya. Dan semua orang akan berusaha mencarinya. Meskipun tidak semuanya dapat mencapai yang diingininya itu. Bermacam sebab dan rintangan yang mungkin terjadi, sehingga banyak orang yang mengalami kegelisahan, kecemasan dan ketidakpuasan.’
Sesungguhnya ketenangan hidup, ketenteraman dan kebahagiaan sangat dipengaruhi oleh kesehatan hati. Walau bagaimanapun kondisi yang dihadapi, kalau hati seseorang itu sehat, maka insya Allah hidupnya tenang dan bahagia. Sebagaimana kehidupan para Nabi dan Rasul beserta para sahabat-sahabatnya. Mereka banyak menghadapi rintangan, hinaan, penderitaan dan siksaan dari orang-orang yang tidak senang kepada mereka, namun hidupnya selalu tenang, tenteram dan bahagia, tentu hal ini tidak terlepas dari kesehatan hati di mana mereka senantiasa konsisten mengamalkan ajaran Islam dan selalu mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Ketenangan dan ketenteraman hidup memang sulit dicapai karena pada dasarnya dalam diri manusia terdapat kecenderungan dua arah yaitu ke arah perbuatan fasiq dan kepada ketaqwaan. Sebagaimana firman Allah dalam surah Asy-Syams (91): 8.
فا لهمها فجورها وتقواها (الشمس : ۸)
‘Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaan.’ (QS. Asy-Syams (91) : 8).
Dalam tubuh manusia kedudukan hati adalah raja bagi organ tubuh manusia. Baik tidaknya seseorang ditentukan oleh hatinya.
|
…ألا وإن فىالجسد مضغة، إذا صلحت صلح الجسد كله، وإذا فسدت فسد الجسد كله، ألاوهى القلب (رواه الشيخان)
‘…Ketahuilah, bahwa di dalam tubuh terdapat segumpal darah. Jika segumpal darah itu baik, maka baik pula seluruh tubuh, dan jika segumpal darah tersebut rusak, rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal darah tersebut adalah hati.’ (HR. Bukhari Muslim).
Dengan dasar tersebut di atas, manusia diberi isyarat untuk mendidik diri dan orang lain menjadi manusia yang beruntung sesuai kehendak Allah Sang Pencipta, dalam hal ini mencerminkan bahwa manusia memiliki kemauan dan kebosanan untuk menentukan dirinya melalui upayanya sendiri. Olehnya itu diperlukan ajaran agama Islam dalam memelihara dan mendidik kemampuan dasar potensi yang dibawa sejak lahir.
Musuh Allah syetan mengetahui dengan jelas nilai strategis hati. Syetan menginginkan hati sakit, kemudian hati, terkubur di badan (mayat hidup).
Skripsi ini diharapkan dapat membantu dalam menjaga “hati” membentengi dengan benteng tangguh hingga syetan tidak bisa menyusup untuk mengacak-acak hati, semoga membantu proses mengobatan hati agar tetap jernih dan hidup, dan diharapkan dapat memperoleh keberuntungan di hari kemudian yang terbebas dari penyakit-penyakit tersebut, seperti bunyi firman Allah QS. Asy-Syuara’ (26) : 88-89:
يوم لا لاينفع مال ولابنون. الامن اتى الله بقلب سليم (الشعراء : ۸۸-۸۹)
‘Pada hari (akhirat) harta dan anak-anak tidak berguna, (tetapi yang berguna tiada lain) kecuali yang datang kepada Allah dengan hati yang sehat.’
(QS. Asy-Syuara (26) : 88 – 89).
Islam mendorong manusia agar memiliki hati yang sehat dan terbebas dari segala macam penyakit dengan jalan bertobat, dan mendekatkan diri kepada Allah, karena:
الابذ كر الله تطمئن القلوب (الرعد : ۲۸)
‘Sesungguhnya dengan mengingat Allah, jiwa akan memperoleh ketenangan’ (QS. Ar-Ra’d (13): 28).
Bertolak dari latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, maka berikut ini penulis ungkap rumusan dan batasan masalahnya.
Langganan:
Postingan (Atom)
